Piala Dunia selalu menghadirkan kisah yang sulit dilupakan. Tidak hanya soal kemenangan dramatis atau lahirnya juara baru, tetapi juga tentang momen-momen yang mengubah nasib sebuah tim dalam hitungan detik. Itulah yang dialami Kroasia di Piala Dunia 2026. Tim berjuluk Vatreni harus mengakhiri langkah mereka lebih cepat setelah kalah 1-2 dari Portugal pada babak 32 besar dalam pertandingan yang penuh drama, kontroversi, dan emosi. Kekalahan tersebut bukan sekadar menghapus harapan Kroasia untuk melangkah lebih jauh, tetapi juga menjadi penutup perjalanan salah satu generasi terbaik dalam sejarah sepak bola negara tersebut.
Sorotan terbesar pertandingan bukan hanya kebangkitan Portugal atau gol penentu kemenangan pada masa injury time, melainkan keputusan VAR yang menganulir gol penyeimbang Kroasia berkat bantuan teknologi Snicko. Keputusan itu memicu perdebatan luas karena sentuhan bola yang menjadi dasar offside nyaris tidak terlihat oleh mata manusia. Di sisi lain, SBOTOP melihat laga ini juga menjadi akhir dari perjalanan Luka Modric di ajang Piala Dunia, sebuah penutup yang terasa begitu emosional bagi salah satu gelandang terbaik dalam sejarah sepak bola modern.
Kroasia Tersingkir Setelah Duel Dramatis Melawan Portugal
Pertandingan babak 32 besar mempertemukan Kroasia dengan Portugal dalam duel yang berlangsung sengit sejak menit pertama. Kedua tim bermain disiplin dan saling menekan demi mengamankan tiket menuju babak 16 besar.
Memasuki babak kedua, Kroasia berhasil memecah kebuntuan melalui Ivan Perisic pada menit ke-52. Gol tersebut membuat kepercayaan diri Vatreni meningkat karena mereka mampu mengendalikan jalannya pertandingan selama beberapa waktu.
Portugal yang tertinggal tidak kehilangan semangat. Tim asuhan mereka terus meningkatkan intensitas serangan hingga akhirnya memperoleh hadiah penalti. Cristiano Ronaldo yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna sehingga skor berubah menjadi 1-1.
Saat pertandingan tampak akan berlanjut ke babak tambahan waktu, Portugal justru berhasil mencetak gol kemenangan pada masa injury time. Gonzalo Ramos menyambut umpan silang dengan sundulan akurat yang gagal diantisipasi kiper Kroasia. Gol tersebut membuat Portugal berbalik unggul 2-1.
Meski waktu pertandingan hampir habis, Kroasia masih sempat membangun serangan terakhir yang sempat membuat para pendukung mereka bersorak. Namun, harapan itu akhirnya sirna setelah proses pemeriksaan VAR.
Gol Penyeimbang Kroasia Dianulir oleh VAR
Beberapa saat setelah Portugal unggul, Kroasia melancarkan serangan panjang ke dalam kotak penalti lawan. Bola jatuh ke kaki Mario Pasalic yang kemudian mengarahkan umpan kepada Josko Gvardiol. Bek tersebut berhasil menceploskan bola ke gawang Portugal sehingga para pemain Kroasia sempat merayakan gol yang diyakini akan memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan waktu.
Namun, wasit Espen Eskas tidak langsung mengesahkan gol tersebut. Proses pemeriksaan VAR dilakukan untuk memastikan tidak ada pelanggaran dalam proses terciptanya gol.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Mario Pasalic berada dalam posisi offside ketika menerima bola. Keputusan itu didasarkan pada adanya sentuhan sangat tipis dari Igor Matanovic sebelum bola sampai kepada Pasalic.
Karena sentuhan tersebut dianggap sebagai umpan terakhir dari rekan setim, posisi Pasalic dinilai berada di area offside. Akibatnya, gol Gvardiol dibatalkan dan Portugal tetap mempertahankan keunggulan hingga peluit panjang dibunyikan. Keputusan tersebut menjadi salah satu momen paling banyak dibicarakan sepanjang babak gugur Piala Dunia 2026.
Mengenal Teknologi Snicko yang Menjadi Penentu Keputusan
Perdebatan mengenai gol Kroasia membawa perhatian publik kepada teknologi Snicko yang digunakan dalam pertandingan. Snicko merupakan sistem pendeteksi sentuhan bola yang mengombinasikan sensor elektronik, analisis suara, dan data posisi bola secara real time. Teknologi ini dirancang untuk mendeteksi benturan atau sentuhan sekecil apa pun yang mungkin tidak dapat dilihat secara kasat mata.
Pada Piala Dunia 2026, bola pertandingan telah dilengkapi sensor ultra-wideband atau UWB yang mengirimkan data posisi ratusan kali setiap detik ke ruang VAR. Selain itu, sensor tambahan mampu merekam getaran yang muncul ketika bola bersentuhan dengan kepala, kaki, atau bagian tubuh pemain lainnya.
Data tersebut kemudian diterjemahkan menjadi grafik gelombang yang menunjukkan waktu terjadinya kontak dengan sangat presisi. Ketika terdapat lonjakan pada grafik, sistem dapat memastikan bahwa memang terjadi sentuhan terhadap bola meskipun sentuhan itu sangat tipis. Dalam pertandingan Kroasia melawan Portugal, teknologi inilah yang mendeteksi adanya kontak dari Igor Matanovic sebelum bola diterima Mario Pasalic.
Mengapa Gol Kroasia Tetap Dianggap Offside?
Banyak pendukung Kroasia mempertanyakan alasan gol tersebut tetap dianulir karena bola tampak hanya berubah arah sedikit sebelum sampai kepada Pasalic. Dalam aturan offside, yang menjadi penentu bukan besar atau kecilnya sentuhan, melainkan apakah pemain terakhir dari tim penyerang benar-benar memainkan bola sebelum diterima rekan setimnya.
Teknologi Snicko memastikan bahwa bola memang sempat mengenai kepala Matanovic. Karena Pasalic sudah berada lebih dekat ke garis gawang lawan dibandingkan pemain bertahan terakhir ketika sentuhan itu terjadi, posisi tersebut dinyatakan offside.
Selain itu, pantulan dari pemain bertahan Portugal tidak dianggap sebagai permainan yang disengaja. Dalam aturan sepak bola modern, bola yang hanya mengenai pemain bertahan tanpa adanya upaya mengontrol permainan tidak menghapus status offside pemain lawan. Itulah sebabnya VAR tetap memutuskan membatalkan gol Kroasia meskipun prosesnya berlangsung sangat tipis dan sulit dilihat secara langsung.
Teknologi Membuat Keputusan Lebih Akurat, tetapi Tidak Menghilangkan Kontroversi
Penggunaan teknologi dalam sepak bola memang bertujuan meningkatkan akurasi keputusan wasit. Kehadiran VAR, semi-automated offside, hingga Snicko telah membantu mengurangi kesalahan yang sebelumnya sering terjadi.
Meski demikian, teknologi tidak selalu menghilangkan perdebatan. Justru karena mampu mendeteksi detail yang tidak terlihat manusia, keputusan yang dihasilkan terkadang terasa sangat keras bagi tim yang dirugikan.
Kasus Kroasia menjadi contoh nyata. Dari sudut pandang aturan, keputusan tersebut dinilai benar karena didukung data elektronik yang sangat presisi. Namun, dari sisi emosional, banyak pendukung merasa tim mereka tersingkir akibat sentuhan yang nyaris tidak terlihat. Inilah dilema sepak bola modern. Akurasi semakin meningkat, tetapi ruang untuk perdebatan tetap terbuka karena teknologi kini mampu menentukan hasil pertandingan berdasarkan detail yang sangat kecil.
Air Mata Mateo Kovacic dan Perpisahan Luka Modric

Peluit akhir pertandingan langsung menghadirkan suasana emosional di kubu Kroasia. Mateo Kovacic terlihat tidak mampu menyembunyikan kesedihannya. Gelandang berpengalaman tersebut menangis di lapangan sebelum mendapat pelukan dari rekan-rekannya maupun pemain Portugal.
Momen yang lebih menyentuh datang dari Luka Modric. Gelandang berusia 40 tahun itu menjalani pertandingan yang diyakini menjadi penampilan terakhirnya di Piala Dunia.
Selama bertahun-tahun, Modric telah menjadi simbol kebangkitan sepak bola Kroasia. Kepemimpinannya membawa negara berpenduduk kurang dari empat juta jiwa itu bersaing dengan kekuatan-kekuatan besar dunia.
Perpisahan Modric terasa semakin emosional karena terjadi setelah kekalahan dramatis yang dipenuhi kontroversi. Meski gagal menutup karier Piala Dunia dengan hasil manis, warisan yang ditinggalkannya tetap menjadi bagian penting dalam sejarah sepak bola Kroasia.
Perjalanan Kroasia dalam Lima Edisi Terakhir Piala Dunia
Terlepas dari kegagalan di Piala Dunia 2026, Kroasia tetap layak disebut sebagai salah satu negara dengan pencapaian paling konsisten dalam dua dekade terakhir.
- Piala Dunia 2006: Kroasia gagal melewati fase grup setelah hanya meraih dua poin. Kekalahan dari Brasil dan hasil imbang melawan Jepang serta Australia membuat mereka finis di peringkat ketiga grup.
- Piala Dunia 2014: Harapan untuk melangkah jauh kembali pupus pada fase grup. Meski sempat mengalahkan Kamerun dengan skor telak, kekalahan dari Brasil dan Meksiko membuat Kroasia kembali tersingkir lebih awal.
- Piala Dunia 2018: Inilah pencapaian terbesar Kroasia sepanjang sejarah. Dipimpin Luka Modric, mereka tampil luar biasa dengan menyingkirkan Denmark, Rusia, dan Inggris sebelum mencapai final. Meski kalah dari Prancis, status sebagai runner-up dunia menjadi prestasi bersejarah bagi negara tersebut.
- Piala Dunia 2022: Empat tahun kemudian, Kroasia kembali membuktikan kualitasnya. Mereka sukses mencapai semifinal setelah menyingkirkan Jepang dan Brasil melalui adu penalti. Meski kalah dari Argentina, Kroasia menutup turnamen dengan kemenangan atas Maroko untuk merebut peringkat ketiga.
Piala Dunia 2026: Turnamen kali ini diawali dengan kekalahan dari Inggris sebelum bangkit mengalahkan Panama dan Ghana untuk lolos dari fase grup. Namun, perjalanan mereka berakhir di babak 32 besar setelah kalah dramatis dari Portugal dalam pertandingan yang diwarnai keputusan VAR dan teknologi Snicko.
●●●
Kunjungi halaman blog kami untuk membaca berita SEPAK BOLA dan informasi pasaran taruhan
Selalu menjadi yang terdepan dalam mendapatkan informasi seputar olahraga dan bursa taruhan



